Kamis, 15 Maret 2012

UNTUK KALENG SUSU

 

Ujung jempolku sudah mulai terasa semutan, pegal dan baal. Mata minus satukupun mulai pedas dan pandangan sedikit kabur. Kuletakkan hand phone ku ke pangkuan. Kugerak-gerakkan kedua jempolku untuk mengusir rasa yang sangat tidak nyaman ini. Kucoba mengedip-ngedipkan mataku berharap pandangan mataku kembali normal dan jelas. Semua usahaku sia-sia, keadaan tidak berubah. Ah… mungkin lebih baik istirahat saja sebentar mungkin keadaan akan kembali normal. Kusingkirkan hand phone kesayanganku dari pangkuanku dan kuletakkan diatas meja. Hand phone tua inipun mungkin juga sudah lelah, bodinya sudah terasa hangat. Hand phone murah ini begitu besar jasanya buatku, menemani perjuanganku selama ini tanpa mengeluh sedikitpun.

SAJAK KALENG SUSU
ku buka kaleng bekas susu anakku
yang bermerk x
lalu kutuang sajak–sajakku kedalamnya
biar saja tersimpan
dan memenuhi tumpukan
kaleng - kaleng bekas itu
kelak anak anakku yang membukanya 
dan mengeluarkan dari sana
sajak sajakku tersimpan
di pojok gudang 
lusuh bertumpuk debu

Tegal Alur,14 September  2011

“Bu, bubur si adik diberikan sekarang ?” tiba-tiba mbak Jum pengasuh Valen, anak bungsuku yang baru berumur 9 bulan sudah berdiri di sampingku. Di tangannya ada mangkok biru kesayangan Valen.

“Hmm…. Ya deh, kasih sekarang saja “ aku menjawab sedikit bingung.

“Ya bu”, mbak Jum menjawab dan sejenak kemudian punggungnya sudah tidak terlihat lagi di balik tirai yang memisahkan ruang tamu tempatku duduk dan ruang tengah sekaligus ruang makan dimana biasanya Valen di baringkan.

 Kusandarkan punggungku ke sofa lusuh tempatku duduk selama ini. Kepalapun sejenak kuistirahatkan diatas sandaran sofa agar leher yang sudah sedari tadi terasa pegal bisa juga ikut istirahat. Kepalaku yang sedikit menengadah membawa pandangan mataku yang kabur pada kipas besar yang tergantung di plafon ruang tamu sempit ini. Kipas berbilah triplek terlihat makin kusam dalam pandang mataku yang masih juga sedikit kabur. Bilah kipasnya berputar pelan seakan menggambarkan berjalannya waktu. Hembusan anginnya terasa menggoyangkan rambut-rambut halusku diatas kening yang kurasa mulai panas karena terus berkonsentrasi tadi. Kupejamkan mataku.

Mungkin sudah lebih satu setengah jam aku mengetik cerpenku di dalam hand phone ini sejak pulang kantor tadi. Bahkan pakaian kantorpun belum sempat aku ganti dengan baju rumah. Aku menuliskan cerpen di hanphone sejak computer kuno Pentium II ku mulai sering ngadat dan akhirnya rusak sama sekali sejak tiga bulan yang lalu. Cerpen-cerpen ini biasanya ku kirim ke redaksi tabloid melalui email atau kadang melalui pengiriman file di Yahoo Messenger. Dengan mengirim cerpen-cerpen ini ke tabloid aku mendapat uang tambahan untuk membeli susu kaleng Valen dan kakaknya, Vanes, anak sulungku yang kelas satu sekolah dasar. Tadi karena terlalu asyik menulis sampai tidak begitu mendengar ketika Vanes berteriak sambil berlari minta ijin main keluar dan aku hanya mengiyakan saja tanpa menanyakan kemana mainnya seperti biasa. Budi, suamiku, bila sedang libur setelah dinas malam biasanya pada waktu seperti ini selalu mencoba menjauhkan anak-anak dariku agar aku tidak terganggu. Tapi saat ini dia belum pulang kerja. Aku masih ingat kemarin Budi mengingatkanku untuk istirahat menulis di hand phone.

“Mah, istirahat dulu, nanti jempol mamah bengkak lho” katanya.

 “Sebentar”. Jawabku singkat.

Dari samping hand phone yang ku pegang, aku sempat melirik dan kulihat kaki Budi berdiri disampingku. Aku memandangnya sambil sedikit bermuka masam. Sejenak ku hentikan ketikanku. Kualihkan pandanganku dari screen handphone ke wajahnya. Terlihat pandangan mata Budi yang jelas menyiratkan kekawatirannya namun di wajah itu juga menggambarkan rasa bersalahnya karena sampai hari itu tidak juga  mampu membelikan laptop bekas yang ditawarkan anak bosku di kantor.

“Sebentar lagi, ayah tolong urusin Valen dulu deh” aku mengulang jawabku dan melanjutkan mengetik. Budi biasanya tidak memprotes hal ini karena dia tahu dari tulisan-tulisanku ini telah terbukti sangat membantu keuangan kami yang selalu pas-pasan setiap bulannya meskipun keduia gaji kami sudah digabungkan.

Memang sudah tiga bulan Ini, Budi berusaha keras mencari uang tambahan untuk membeli laptop itu supaya aku tidak lagi menulis cerpen-cerpen dan puisi-puisiku dengan handphone yang menyakitkan ini.

“Bu, adik nggak mau Jum suapin tuh” tiba-tiba suara mbak Jum membuyarkan lamunanku.  

“Kenapa ?” tanyaku sambil membuka mata dan menegakkan punggungku.

“Si adik selalu susah disuapin sama saya kalau sudah melihat ibu pulang kantor seperti ini “ mbak Jum menjawab sambil memperlihatkan mangkok bubur di tangannya yag masih penuh.

“Eeeaaa….” Sayup terdengar suara Valen di ruang makan seakan memprotes karena ditinggalkan sendirian disana.

“Ya sudah nanti biar aku yang nyuapin Mbak”.

Aku sedikit kawatir dengan Valen. Sudah hampir sepuluh bulan kata-kata yang keluar dari mulutnya eeeaaa… eeeaaaa saja. Dulu Vanes pada seumuran Valen ini sudah bermacam-macam kata dan bunyi-bunyian bisa diucapkannya. Aku meraih hanphoneku. Kulihat di layar ponselku masih terlihat hasil ketikan cerpenku. Ah, aku belum mensavenya, bisa-bisa kejadian kemarin-kemarin terulang lagi, tulisanku yang sudah aku buat dengan susah payah akhirnya hilang karena lupa tidak aku simpan ketika baterainya habis dan handphone mati saat kutinggal mengurusi pekerjaan rumah. Setelah menyimpan aku beranjak menyusul mbak Jum ke ruang tengah.

Ruang tengah rumahku hanya berukuran empat kali tiga setengah meter. Udaranya lebih panas disbanding ruang tamu tempatku duduk tadi. Ruangan ini sekaligus  menjadi ruang keluarga, ruang makan juga ruang bermain dan tidur siang bagi Valen dan Vanes. Ruangan terasa sempit karena meja makan dan rak televisi pemberian bosku dikantor memenuhi ruangan ini. Ditengan terbentang tilam, kasur tipis, dimana kulihat Valen duduk memegang mainannya. Melihatku masuk ruangan Valen mengangkat wajahnya memandangku.

“Eaaa..eaaaa..” teriak Valen gembira.

“Cayaaaang…. Kenapa anak mama nggak mau disuapin mbak …?” aku berlutut didepannya.

Tadi pulang kantor memang aku sempat menggendongnya sebentar kemudian kuserahkan ke mbak Jum saat aku ingat aku harus cepat menyelesaikan cerpenku sebelum batas waktu sebelum penerbitan mendatang. Menulis memang menjadi satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuk menambah penghasilan keluarga disamping pekerjaan rutinku di kantor. Aku bekerja hanya sebagai tenaga administrasi perusahaan keluarga., sebuah perusahaan kecil jasa pergudangan.

Kesenanganku menulis puisi sudah kurasakan sejak masih disekolah dasar. Aku bahkan memiliki buku khusus berisi puisi-puisiku sewaktu di sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Teman-teman yang sedang jatuh cinta ataupun yang sedang cemburu biasanya memesan puisi-puisi padaku untuk mengungkapkan perasaannya. Mereka selalu mengatakan puisiku terasa lain, entah apa maksudnya. Setelah menikah akupun terus menulis bahkan semakin produktif dengan semakin banyaknya referensi dari hasil tulisan penulis-penulis puisi terkenal. Puisi-puisiku makin berisi bahkan mengandung mistis, begitu komen-komen teman di jejaring social Facebook tempatku menumpahkan karya-karya puisiku yang seakan tidak berhenti mengalir di pikiranku. Akhirnya tulisankupun kukirimkan ke beberapa tabloid dan setelah beberapa kali penolakan akhirnya berhasil diterbitkan. Sekarang sudah menjadi kegiatan rutinku untuk menambah penghasilan. Semakin deras pula ide dan inspirasi menulis. Beberapa seniman dan penulis yang aku coba ajak berkawan ternyata memberikan penilaian yang cukup baik pada tulisanku di Facebook. Aku semakin bersemangat. Sampai pada akhirnya timbul keinginanku untuk membuat buku kumpulan puisi dan menerbikannya. Itu obsesiku yang sampai detik ini semakin kuat mendesak dada dan pikiranku.

“Eaaaaa…” terdengar kembali suara Valen.

Aku terkejut, ketika tangan Valen yang kecil mencoba meraih dan menyentuh wajahku. Aah rupanya bidadari kecilku ini protes karena aku tinggalkan melamun sementara wajahku tepat didepan wajahnya. Matanya yang besar bulat dengan bola mata hitamnya menyiratkan pandangan yang jernih, tidak menghakimi, tidak menilai hanya memancarkan kekaguman dan persahabatan memandangku. Mulutnya yang tertawa lebar selalu memaksaku ikut tertawa dan lupa dengan segala masalahku. Bibirnya yang merah  basah karena liurnya yang masih selalu menetes. Pipinya ranum penuh, berwarna kemerahan menghiasi kulitnya yang lembut dan halus, yang selalu berhasil menarikku untuk selalu tidak bosannya menciuminya. Setiap aku mencium untuk yang kedua kalinya dari ciuman pertama, Valen selalu bereaksi membuka mulutnya dan mengarahkannya ke hidungku seperti yang dilakukannya kini. Akupun selalu membiarkan mulut mungil itu mengisap dan mencoba menggigit-gigit hidungku dengan giginya yang kecil-kecil, semenatara tangan gemuknya mencoba mencengkeram pipiku. Kugoyangkan hidungku diantara kedua bibirnya sampai kurasakan air liurnya membasahi seluruh hidungku yang kadang sampai mengalir menetes di ujung hidungku. Momen ini selalu memberikan sensasi indah dan bahagia yang selalu melebur segala gundah pikiranku  akan segala persoalan yang mendera. Malaikat kecilku ini selalu memberikan sesuatu yang bahkan diapun pasti tidak menyadarinya. Valenku, malaikatku kaulah yang selau menghidupkan kembali semangat mama untuk terus berjuang mencoba mewujudkan cita-cita suatu saat bisa menerbitkan buku sendiri.

“Valen nakal ya, tidak mau disuapin mbak. Sini mama yang suapin ya…. Haaaak….”  aku coba suapin anak nakalku ini.
”Kalau mama tidak ada kenapa mau disuapin mbak, iiihhh ….. anak mama manja ya…?”

Meski awalnya seperti tidak mau, akhirnya Valenpun mau membuka mulut dan mencoba mengunyah buburnya meski hanya dengan gusinya karena giginya yang hanya empat buah di depan tentu tidak terlalu membantu mencerna bubur halusnya.

“Bu, ini susu adik sama kakak dah tinggal dikit lagi, besok juga sudah habis semua” kembali suara mbak Jum terdengar di telingaku.

Mbak Jum menyodorkan kaleng susu Valen dan Vanes dengan sedikit memiringkannya ke arahku agar aku bisa melihat kedalam isi kaleng. Aku menengok kedalam kedua kaleng bergantian. Ah, benar, terlihat sebagian dasar kaleng yang berkilat karena isinya yang sudah hamper habis. Semua beban yang tadi sempat hilang karena kuluman Valen pada hidungku kini mendadak muncul, membuncah di pikiran, menyerbu tak tertahankan seperti sebatalyon tentara musuh yang menyerbu masuk kedalam benteng yang telah runtuh dimana pasukan di dalamnya sudah tidak berdaya mempertahankan. Seketika rasa nyeri menyerang kepalaku di bagian kiri atas. Otakku terasa kosong tidak menemukan jawaban apa yang harus kuberikan.

“Apa saya beli ke supermarket sekarang Bu” kembali terdengar suara mbak Jum.

“Eeemm…. besok aja deh, biar sama saya aja mbak, atau nanti malam kalau ayah sudah pulang”, jawaban itu meluncur begitu saja tanpa kutahu apakah benar bisa aku lakukan.

“Iya deh”, mbak Jum menuju dapur meneruskan membuat susu Valen. Aku melanjutkan menyuapi Valen yang masih saja bermain dan tertawa-tawa dengan bunyi eeaanya.

Susu Valen dan Vanes adalah anggaran terbesar dalam keuangan kami. Setiap gajian, kedua jenis susu mereka ini yang selalu memenuhi tas belanjaan kami. Menjadi muatan utama motor suami yang kadang hampir tidak memberi ruang lagi untukku membonceng dibelakangnya saat pulang belanja.  Seusai belanja susu, biasanya kami berhitung, berapa lama sisa gaji kami bisa bertahan untuk hidup sampai akhir bulan dengan memperhitungkan kebutuhan hariannya. Kalau bisa bertahan sampai lima hari menjelang gajian berikutnya itu sudah sangat beruntung. Keuangan yang tekor, tidak sampai ke akhir bulan, bukanlah hal yang aneh bagi kami. Seminggu sampai sepuluh hari tekor adalah jadwal yang selalu hampir terjadi setiap bulannya. Dari sini aku dan Budi akan menentukan langkah agar mendapat pengahsilan tambahan menutupi tekor harinya. Budi akan mencari kawannya yang perlu tenaga pengganti dinas malam dan aku harus menulis puisi lebih banyak untuk dikirim ke tabloid.

“Yah, kalau nanti tulisan mama tidak berhasil dimuat, mama akan coba minta tambahan kasbon di kantor deh” aku mencoba mengajukan solusi masalah itu.

Solusi ?, ah sebenarnya kasbon hanyalah menunda masalah saja, tapi hanya itulah yang bisa kulakukan bila nanti tulisanku ditolak.

“Kan yang bulan kemarin belum lunas di kembalikan ma, emang boleh minta kasbon lagi ?” pertanyaan Budi ini tidak pernah kujawab, karena akupun sangsi juga akan keberhasilan usaha itu. “Nanti ayah saja yang cari deh” Budi mencoba mengurangi beban pikiranku, tetapi tidak berhasil karena aku tau Budipun juga tidak selalu berhasil mendapat tambahan.

Sebenarnya aku masih menyimpan sedikit uang sisa mendapat arisan kantor bulan lalu ditambah hasil budi ngobyek membantu pak Haji Sanusi menjual hasil panen empangnya . Simpanan ini aku cadangkan untuk membeli laptop bekas itu yang adalah sarana utamaku untuk bisa menulis dengan baik. Jantung utama menghasilkan karya dan ungkapan inspirasi-inspirasiku. Jalur utama menuju tercapainya cita-cita dan keinginanku menulis sebuah buku. Terkadang terjadi pertengkaran yanghebat antara aku dan Budi saat aku tenggelam didalam menulis dan menurut Budi aku mengabaikan urusan rumah tangga.

“Ma, mama boleh saja menulis. Ayah juga tau tulisan mama membatu keuangan kita, tetapi jangan mengabaikan urusan rumah tangga dong” itu yang selalu menjadi protes Budi.

Ah, kamu tidak tau. Kalau ini aku tuda semua bisa hilang. Otakkua sudah sangat penuh dengan ide-ide tulisan yang sejak tadi terus bermunculan. Aku ingin memprotesnya demikian, etapi aku lebih memilih diam dan tetap meneruskan menulis, takut semua inspirasi yang terus mendesak dikeluarkan ini terlanjur lenyap berganti kemarahan. Di mata Budi, sikap seperti ini dianggap sebagai keacuhan terhadap protesnya. Setelah aku anggap selesai menulis akupun akan berapi-api memberi argumen atas protesnya. Kemarahan yang sudah terpendam dibawah sadar akibat segala problem yang ada terutama masalah ekonomi di otak kami akhirnya menjadi penyulut pertengkaran hebat diantara aku dan Budi. Seperti biasa akan merembet kemana-mana seperti api disiram minyak, nyalanya makin berkobar. Bahkan dua bulan yang lalu kejadian seperti itu akhirnya membuat Budi gelap mata dan praang…. Handphoneku hancur berantakan dibantingnya di lantai. Kami tidak saling menyapa beberapa hari. Dalam kondisi seperti itu kami akan tidur terpisah, salah satu dari kami akan tidur di luar kamar dan tidur diruang keluarga, aku atau Budi, tergantung siapa yang sudah duluan tertidur di kamar.

“Ini bu susu adik” mbak Jum menyodorkan botol susu Valen. Bubur dimangkokpun juga sudah mapir habis.

“Bentar, biar habis dulu buburnya, nanti mbak Jum yang kasih susunya ya” aku menjawab sambil menyodorkan suapan terakhir ke mulut malaikat kecilku ini.

Setelah menyeka mulut Valen yang berlepotan bubur dan memberinya air putih, aku bangkit ke dapur untuk meletakkan bekas mangkok makan Valen. Mbak Jum mengambil alih memberi susu Valen. Kulihat dari dapur yang memang sama sekali tidak terpisah dari ruang tengah itu, Valen mau minum susunya. Yah … untuk yang satu itu, susu, Valen tidak pernah memilih siapa yang akan memberikan, akan dilahapnya habis seluruh isi botol, bahkan kadang masih merengek minta tambah.

Selesai mencuci mangkok, aku menuju kamar untuk berganti pakaian. Melewati ruang tamu kulihat Valen berbaring dengan dibantu mbak Jum masih asyik menyedot botol susunya dengan rakus. Mata beloknya sama sekali tidak terpejam, bahkan pandangannya tidak lepas memandangku yang berjalan pelan menuju kamar.

Kaus katun tipis dan celana pendek akan lebih memberi keleluasaan padaku,dan itu akan lebih memperlancar inspirasiku kembali menulis dengan handphone. Aku menuju ruang tamu sambil kembali membuka file cerpenku yang tadi sempat tertunda. Kembali melewati ruangan dimana Valen berbaring sambil minum susunya, kulihat matanya kembali memandangiku. Aku tidak tahan membiarkan tanpa menciumnya. Kudekati tempatnya berbaring, berlutut disampingnya sambil mendekatkan wajahku ke wajahnya.

“Valen cayang… habis ini bobo yah, tidak boleh bandel …. mengerti” aku pura-pura memarahinya dan kemudian mencium pipi ranumnya. Tiba-tiba Valen menghentikan sedotan pada botolnya, ditepisnya botol yang dipegangi mbak Jum kesamping sehingga terlepas dari mulutnya. Sebagian susu mengucur ke pipi dan lehernya.

“Eeeeaa….eeeaaa” Valen tertawa melihatku. Tangannya yang mungil mencoba meraih wajahku. Sama sekali tidak ada tanda-tanda takut kumarahi.

“Tidak boleeee…. Cayaang…., mama mau kerja. Valen mimik cucunya sama mbak aja yah”  kali ini aku tidak membiarkan Valen meraih hidungku dengan mulutnya. Bahkan aku beranjak meninggalkannya menuju ruang tamu. Mbak Jum yang sudah selesai membersihkan bekas tumpahan susu di pipi dan leher valen dengan air hangat kembali menyodorkan botol susu ke mulut Valen yang sudah pasti menyambutnya tanpa penolakan sama sekali. Yah… kedua anakku ini benar-benar susu mania.

Diruang tamu aku kembali melanjutkan mengetik cerpenku dengan handphone. Ya, cerpen, bukan puisi. Beberapa hari yang lalu aku ditelpon Mas Al redaktur tabloid yang biasa menerima kiriman pusisiku.

“Mbak,coba mbak buat cerpen ya. Mungkin pembaca ingin variasi. Honornya lebih besar lho” terdengar suar mas Al diujung telepon.

“Bener nih mas ?” aku masih belum yakin, “Kalau bener ako coba buat, tetapi aku tidak yakin. Aku nggak biasa pikin cerpen”

“Coba deh. Aku yakin mbak bisa.” Mas Al menyemangati “Aku kasih waktu semingu dari sekarang ya..., buat saja kira-kira 7 halamanlah”

Itulah mengapa aku menulis cerpen saat ini, bukan puisi. Honor lebih besar. Ah, mengapa aku menjadi mata duitan begini. Sampai-sampai kukorbankan diriku, dari seorang penulis puisi menjadi penulis cerpen. Tapi apa salahnya aku membuat keduanya. Dua-duanya adalah sarana mengungkapkan inspirasi yang terus bermunculan seperti air mancur ditugu Monas. Aku hanya perlu menambah referensi apa itu cerpen dan bagaimana cara membuatnya. Yah aku harus mencoba. Mumpung ide cerita itu sudah mulai kudapat.

Kembali jari-jariku menari lincah diatas tombol-tombol mungil di handphoneku. Tidak jarang aku salah tulis, del dan backspace mungkin akan marah karena berkali-kali aku pencet untuk menghapus bagian yang salah tulis. Layarnya yang mungil menyebabkan aku tidak bisa melihat keseluruhan tampilan kalimat-kalimatnya secara utuh. Ah, bagaimana aku bisa melihat apakah narasiku, deskripsiku juga dialog-dialog yang ku bangun bisa konsisten, runtut , tidak berulang dan bisa memaparkan dengan jelas pada pembaca nanti kalau layarnya hanya dua inci begini. Huuuh, sesaat aku ingat Budi. Gara-gara dia tidak mampu membelikanku laptop yang bahka cuma bekas, aku harus mati-matian berjuang seperti ini. Bulan depan apapun yang terjadi kedua gaji kami akan aku ambil setengahnya untuk menambah beli laptop anak bos itu, biar tidak sengsara begini. Aku semakin marah bila ingat ini semua juga untuk menambah penghasilan rumah tangga.

Aku masih melanjutkan menulis, meski pikiran timbul tengelam antara ide cerita dengan rencana membeli laptop bekas itu. Di facebook puisiku bahkan sudah menjadi langganan teman-teman. Komen yang selalu panjang penuh pujian kekaguman sudah biasa aku terima, kali ini aku harius mati-matian memeras ideku menulis cerpen. Hhhhhuuh, ternyata sangat berbeda dan tidak gampang. Saat menulis puisi bahkan aku bisa santai membiarkan perasaanku meluncur dan berubah menjadi kata-kata indah di tanganku. Kini, harus membuat cerpen. Setiap beberapa baris kutulis aku mengulang membacanya dan ….. kembali cerpenku bertabur kata-kata indah dan kiasan kas puisi. Huuuuhhh… del, del…..del. Mulai lagi. Narasi, Deskripsi dan Dialog, ketiga kata itu terus saja aku munculkan dipikiranku agar aku tetap bisa konsisten menulis cerpen, bukan puisi. Jari-jariku kembali terasa nyeri dan merah. Bulan depan laptop itu harus kuperoleh.

“Mah, kalau mamah mau bersabar barang tiga bulan, mungkin Ayah bisa dapatkan uangnya untuk membayar laptop bekas Ahim itu”, ini kalimat Budi minggu lalu selesai kami berdamai setelah ribut dan saling mendiamkan selama tiga hari.

“Tiga bulan,…?” balasku setengah berteriak “Sudah telat tahu ….!”

Aku harus mendapatkan laptop itu bulan depan, titik. Hatiku sudah tidak bisa ditawar lagi. Kalaulah Budi tidak ada tambahan uangnya, seluruh gajiku akan kugunakan untuk menambah kekurangannya. Biar Budi mencari uang tambahannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga sampai akhir bulan. Aku tidak mau lagi menunda-nunda terus cita-cita dan tekadku untuk menulis dan memnerbitkan buku. Harus!. Tidak ada kompromi. Sudah terlalu lama aku menunggu, bahkan sudah terlalu lama kedua jempol ini disiksa, sementara otakku setiap hari penuh dengan ide-ide yang ingin kutulis. Kalaulah memang harus ribut besar, kali ini aku sudah siap dengan segala resikonya. Ayo kita ribut sampai dimanapun, aku tidak akan mundur lagi kali ini.

Didalam kemarahan, jariku terus menari semakin lincah. Ide terus mengalir deras seperti hujan yang turun disetiap awal tahun. Membanjiri seluruh persawahan, demikian juga ideku membanjiri seluruh pikiranku. Tak terasa lagi rasa nyeri itu. Aku terus mengetik dengan handphoneku.

“Eeeeeaaaaaaaa….eeaaaaaa…..” tiba-tiba terdengar jeritan Valen di ruang sebelah.

Suara tangisan Valen yang melengking seakan menahan kesakitan yang sangat dalam. Seketika aku terhenti menulis. Spontan kuletakkan handphone di sofa, aku meloncat menuju ruang dimana Valen berada. Kulihat mbak Jum yang rupanya tertidur, terlihat matanya yang masih merah dengan rambut acak-acakan, mencoba menenangkan Valen yang menangis menjerit-jerit.

“Kenapa mbak Jum ….” Aku berlutut menghampiri mbak Jum yang menggendong Valen.

“Nggak tau bu, saya tertidur habis memberikan susu tadi” mbak Jum menjawab dengan ketakutan. Sekilas kulihat Jam didinding, jam 22.35. Ah rupanya sudah hampir dua jam aku menulis. Tidak terasa. Kulihat Vanes yang tidur disamping adiknya ikut terbangun dan bengong duduk disampingnya.

“Eeeeaaaaaa…..eeeaaaaa” Valen masih menangis kencang. Matanya yang besar tidak lagi terlihat. Mata itu setengah tertutup. Napasnya tersengal-sengal. Kepalanya nampak berkeringat.

“Mungkin mimpi bu “ mbak Jum mencoba memberi argumen.

Aku meraih Valen dari pelukan mbak Jum.

“Cup…cup…cup … sayang, mimpi yah ?” Aku peluk Valen dan membawanya ke ruang tamu yang lebih terang. Aku tepuk-tepuk dan kuelus punggung dengan sayang.
Beberapa saat kemudian tangisnya mereda.

“mbak Jum, tolong buatin susu Valen yah”

“Tapi bu, kan itu tinggal sedikit sekali, bagaimana dengan besok” mbak Jum mengingatkan.

Ya ampun, ini sudah hamper tengah malam, mana bisa membeli susu sekarang. Bagimana ini ?. Ah, gara-gara keasyikan nulis jadi begini. Besok mau tidak mau harus membeli. susu Valen dan susu Vanes. Sekarang masih pertengahan bulan artinya untuk sampai akhir bulan harus membeli untuk persediaan minimal sepuluh hari. Hah…. Sepuluh hari ?. Itu berarti akan memerluakan uang kira-kira …….. ah. Itu juga berarti aku harus membongkar simpanan untuk membeli laptop, berarti laptop juga gagal kudapat bulan depan. Sementara laptop ini aku yakin akan memberikan tambahan penghasilan yang lumayan disbanding aku menulis dengan handphone.

Perang batin sempat memuncak saat suara tangis Valen makin lirih dan napasnya makin teratur. Budi harus bertanggng jawab tentang ini. Dia harus berusaha untuk mendapatkan biaya susu Valen dan Vanes besok, entah bagaimana caranya. Terserah, Dialah kepala rumah tangga ini. Masih mending bakatku menulis bisa memberikan hasil, Dia harus tau itu, dia harus berterima kasih atas segala usahaku. Dia harus bisa menutup semua kekurangan ini. Aku tidak mau kompromi lagi.

“Valen cayang … bobo lagi yah” kuangkat tubuh mungil Valen yang menelungkup dibahu kiriku ke pangkuanku sambil duduk di sofa.

Kini aku bisa melihat wajahnya. Tangisnya sudah benar-benar berhenti, matanya yang masih berkaca-kaca memantulkan sinar lampu diruang tamu. Matanya yang tadi setengah tertutup kini terbuka lebar, bulat, bercahaya. Bibirnya yang merah itupun kini sudah tidak melengkung kebawah, tetapi mulai menampakkan senyumnya. Valen benar-benar sudah bangun sepenuhnya. Matanya yang jernih memandangku, entah apa yang ada dalam pikiran anak sekecil ini saat mata kami saling memandang.

“Kenapa tadi menangis Valen cayaaaang….hah… napaaaa” tanyaku sambil tersenyum menggoyang-goyangkan kepalaku maju mundur kearahnya.

“Eeeeaaaaaa …..” anak manjaku ini tertawa, sambil menggelinjangkan tubuh mungilnya

“Eiiihhh, nggak malu ya. Tadi anak mama nangis, sekarang kok tertawa-tawa. Malu niiih sama mama” candaku padanya sambil menggelitik dadanya

“Eea.. ma..ma..ma..ma “ kambali Valen tertawa spontan memasukkan kepalan tangannya yang mungil kedalam mulutnya :”mama…ma..ma..ma…” kali ini kakinya menendang-nendang seakan ingin turun dari pangkuanku, “mama…mama…mama”

Ah, aku bahagia melihat Valen kini sudah tenang bahkan bisa tertawaa-tawa dan berceloteh. Eeiiit …. Tertawa ? berceloteh ?. Aku tiba-tiba seperti diguyur dengan seember air dingin di kepalaku. Mama katanya ….? Mama, valen memanggilku ? Ah … ehmmm ya, Valen tadi mengucapkan kata-kata itu. Kata yang sudah lama aku tunggu. Kata yang dulu selalu membuatku merasa berharga saat pertama Vanes memanggilku dengan mama
“Mama..mama..ma”.

Jelas, kali ini aku mendengarnya dengan jelas dan sadar, bahkan mataku langsung menatap bibir mungil yang mengucapkan itu. Valen, anak bungsu manjaku ini mulai menyebutkan kata mama. Kata-kata yang selalu aku ucapkan padanya untuk ditirukan. Kata yang lebih lama kutunggu dari mulut mungil Valen dibandingkan dulu ketika Vanes belajar mengucapkan itu. Vanes sangat cepat dalam mengenal dan mengucapkan kata indah itu. Valen memanggilku mama kini, bukan dengan eeaa… eaaa seperti biasa. Terimakasih Tuhan, akhirnya kau anugerahkan kata indah itu melalui bibir mungil putrid bungsuku ini. Terimakasih Tuhan.

“Bu, susu adik jadi mau dibuat ?” tiba-tiba suara mbak Jum membuyarkan eforia rasa bahagiaku bersama Valen.
“Yah, buat sekarang mbak. Habiskan saja” kataku tegas tanpa keraguan. Meskipun sedikit ada tanda-tanya mbak Jum pun beranajak ke dapur membuat susu untuk valen.

Terbayang dimataku, kilat dasar kaleng itu akan terlihat sepenuhnya bila kita melihat kedalamnya, karena susu bubuk didalamnya akan ditumpahkan habis untuk diseduh. Oleh mbak Jum. Huh, aku tidak peduli. Sebentar lagi Budi akan sampai dirumah setelah sift siangnya. Aku akan memintanya ke supermarket 24 jam di ujung taman langganan kami untuk membeli susu buat Valen dan juga vanes. Akan kuambil simpanan di lemari, biar semuanya di belanjakan susu untuk kedua bidadariku ini. Aku tidak peduli lagi kapan laptop bisa aku dapat. Aku masih bisa menggunakan kedua jempolku untuk menulis di handphone. Cita-citaku menulis buku juga tidak akan mati tanpa laptop. Kedua malaikatku ini adalah hasil cinta kami, bukan sekedar tanggung jawab Budi, ayahnya, tetapi juga tanggug jawabku juga.

Kekayaan yang membuatku merasa kaya

Terkesima penuh rasa syukur pada Yang Esa
atas segala karunia dan rahmatNya

Rahmat sehat
yang tak bisa di kurskan
dengan trilyunan dollar atau pun rupiah
aku kaya karena diberi oleh Allah
kesempurnaan dan kesehatan

aku kaya karena  diberiNya
dua putri yang lucu sehat dan pintar
Alhamduliilahirabbil Alamin
Terima Kasih
Ya Rahman Ya Rahhim

aku kaya karena aku bahagia
dengan keluargaku
anak anakku dan suamiku
aku kaya karena senyum anak anakku
membuatku kaya akan kebahagiaan dan cinta

aku kaya bukan karena mobil
dan rumah mewah
atau harta yang berlimpah
aku kaya atas bahagiaku
sehatku seluruh keluargaku

Terimakasih Ya Allah
atas kekayaan ini yang
menjadikan aku merasa kaya

Valen malam ini memanggilku mama untuk yang pertama kalinya. Entah disadarinya atau tidak, aku tidak perduli. Hatiku penuh. Akalku tiba-tiba terbuka terang. Anak-anakku adalah segalanya. Tidak ada satu halpun yang bisa menyingkirkannya dari hatiku, tidak juga laptop bekas itu. Cita-citakupun tidak akan pupus.


Jakarta September 2011
Untuk anak-anak dan suamiku tercinta



CERPEN KALENG SUSU

"Mba, maaf ya  aku belum bisa buatkan puisi yang mbak pesan ,karena aku lagi ngejar date line puisi dan cerpen untuk antologi"
isi sms dari Cep cas per.

"Ya tidak apa-apa Cep" aku balas sms Cep.

Kemudian aku membalasnya kembali :
"Cep aku boleh ikut tidak antologi itu? "

Jawab Cep : "Boleh mbak,ikut aja coba hubungi Komunitas Puisi dan Sastra atau Mas Abel ,tapi inbox aja dulu mbak"

 Lalu tak sabar karena sms lama  harus tunggu balasan jadi aku lebih baik Telp Cep aja untuk menanyakan soal antologi tersebut.

"Hallo Assalamualaikum Cep apa kabarmu? mengawali percakapan kami melalui ponsel.

Lalu Cep pun menjawab : Waalaikum salam mbak,Allhamdulillah khabarku baik dan sehat bagaimana dengan kabarmu mbak?

" Kabarku baik  Cep  Alhamamdulillah,Cep aku pingin ikut gimana caranya dan apa masih ada peluang Cep ? tanyaku pada Cep.

"Bisa mbak date line sampai tanggal 30 September 2011 jadi mbak kirim aja naskahnya ke komunitas puisi dan sastra" jawab Cep .

Senang sekaligus semangat begitu aku mendapat tawaran untuk ikutan bergabung antologi cerpen dan puisi.Kabar ini aku dapat dari sahabat facebookku yang sangat baik,dialah cep cas per yang hanya aku kenal melalui facebook.

Kami sering sharing mengenai puisi dan bahkan kami pernah menulis puisi berkolaborasi untuk sekedar seru-seruan saja.Malah aku sering minta di buatkan puisi yang bertema kritik sosial karena kupikir si cecep atau hantu gaul julukannya di face book ini pandai menulis puisi bertema kritik sosial .
Dia sangat berani dan kritis,akhirnya aku nekad memberanikan diri untuk mengirim beberapa puisi ke panitia penyelenggara yang bernama Mas Abel atau komunitas puisi dan sastra.

Aku pikir aku bisa mengirimkan puisi saja tanpa cerpen,jadi ku kirim banyak - banyak puisi dengan besar harapan untuk masuk seleksi peserta.
Wah rupanya aku dapat balasan inbok dari mas Abel bahwa puisiku harus di lengkapi cerpen juga yang temanya sama dengan puisi,malah dianjurkan boleh kirim naskah lebih dari satu puisi dan satu cerpen.

Wah aku bingung kelabakan karena memang aku tidak siap untuk menulis cerpen.
Banyak kendala selain waktu lap top di rumah sedang rusak tamatlah riwayatku untuk memulai menulis.
Yah aku tak patah semangat ketika Mas Abel sms ke aku : ''Mba semangat ya,Mbak pasti bisa kalo ada kemauan untuk menulis''.
Wah dia begitu memberikan support padaku untuk terus berusaha menulis.

Lalu ku jawab : ''Terima kasih Mas Abel atas support dan dukungan nya yang diberikan padaku''.

Lalu akupun merenung dan berpikir sejenak dan menyampaikan hal ini pada suami tercinta.Ku  katakan apa  adanya ,lalu dengan bijak dia bilang padaku:

''Jangan pernah menyerah sebelum mencoba,jangan pernah katakan tidak mampu atau tidak bisa padahal kamu belum mencobanya sayang''.

Kemudian aku berpikir sejenak seraya bergumam pada diri sendiri .

''Wah benar juga kata suamiku bahwa aku harus mencoba dan  mencoba ciptakan  suggesti  pikiran untuk mampu atau bisa agar sugesti yang di dalam otak mendorong untuk semangat harus bisa.”

Tanpa pikir panjang lagi aku mulai mencicil menulis cerpen ini dengan peralatan seadanya.
Kalian tahu saya mengetik cerpen ini aku menggunakan apa?
hem mungkin kalian semua tidak menyangka  aku mengetik cerpen ini memakai hp nokia Symbian C06.

Aku ingin membuktikan pada diri ku sendiri bahwa aku mampu untuk memulainya.Mungkin kalian tidak pernah merasakan tersiksanya menulis yang agak panjang dengan memakai handphone ,jari -jari terasa kaku dan tidak bisa mengetik secepat seperti kita mengetik di keyboard atau lap top.

Huft meski agak merasa capek jemariku aku berusaha tetap melanjutkannya paling tidak aku sampai merasa benar -benar lelah dan mengantuk.

“ Mah,sudah larut malam nulisnya bisa dilanjutkan besok saying?”

Kata suamiku tercinta penuh sabar yang tidak menginginkan aku sakit kalau kurang istirahat.


Jam di dinding telah menunjuk kan pukul 23.55 menit,aku masih menekan nekan tombol hp nokiaku sambil berpikir mencari alur cerpen yang sedang kutulis ini yang berjudul ''Cerpen Kaleng Susu''.

Awalnya aku menulis puisi sajak kaleng susu itu tengah malam menjelang pagi setelah rutinitas aku membuatkan susu untuk kedua putriku yaitu Valencia yang berumur  1 tahun dan untuk kakaknya Vanessya yang berumur  9  tahun.

Rutinitas malam setiap 2 atau 3 jam sekali aku terbangun untuk membuat susu untuk mereka berdua.
Sajak kaleng susu adalah tentang kejujuranku pada aksara-aksara yang kutulis bahwa kau hanya mampu menulis puisi dan sajak saja.

Aku tidak mampu entahlah tidak atau belum mampu membuat buku kumpulan puisi karena aku masih terfokus memikirkan susu untuk Valencia dan Vanessya.
Setiap bulan aku harus memikirkan dan mengatur  semua pengeluaran agar balance.
Ya sudah ku niati untuk bekerja dengan niat yang tulus membantu kesimbangan ekonomi rumah tangga paling tidak aku ikut meringankan beban suami.

Andai aku tidak bekerja penghasilan suami hanya pas -pasan saja,tidak ada lebihnya untuk ditabung untuk biaya sekolah anak-anak nantinya.Memang dengan bekerja aku mengorbankan anak-anakku dengan tidak memperoleh kasih  sayangku secara full.Karena selama aku bekerja nak-anak dijaga dan di urus oleh pengasuh.
Aku selalu menanamkan pengertian pada putriku yang sulung Vanessya bahwa mamanya bekerja untuk masa depan dia dan adiknya nanti.Dan Alhamdulilah dia memahaminya dan sangat mandiri sekali.
Sepulang sekolah jadwal putri sulungku sudah menanti,mulai les private untuk semua mata pelajaran,les bahasa inggris dan sorenya harus belajar ngaji di TPA.

Aku juga merasa salut dan bangga pada putriku.Bagaimana tidak dia sangat mandiri,berangkat les dia sealu sendiri tidak mau diantar oleh pengasuhnya.PR dari sekolah dia tidak pernah lupa mengerjakannya,nanti pulang kerja tugasku menanyakana nilai dan cek PRnya .
Aku ibu yang egois aku selalu menuntut putriku mendapat nilai bagus atau 10.Tapi Alhamdulillah nyatanya Vanessya mampu rangking 1 dari TK sampai kenaikan kelas kemarin dia rangking satu terus.Sekarang dia kelas 3.Kemarin kenaikan kelas dia mendapat nilai sangat memuaskan dan mendapat piala.

Aku sangat bahagia dan bangga dengan prestasi Vanessya.Aku mendidiknya dengan disiplin tinggi dan boleh dibilang tegas ya aku memang egois selalu inginkan anakku menjadi  is the best di sekolah nya dan di lingkungan rumah.


Rasanya kebahagiaanku tiada habisnya.Vanessya gadis kecilku yang ayu ,lucu dan pintar tak hanya berprestasi di sekolah namun juga berjiwa sosial yang tinggi.
Dia suka marah kalau ada pengemis atau anak jalanan yang meminta minta jika aku atau papanya melewati begitu saja.

Dia rela memberikan uang jajannya untuk di berikan pada mereka ketika berpapasan di lampu merah atau di tempat parkiran kalu kami jalan - jalan ke mall.Seakan di matanya merasakan kesedihan mereka yang bernasib kurang beruntung.
Tak hanya itu dalam mendidik adiknya putri bungsuku Valencia aku melibatkan Vanessya jadi terkesan aku tidak melulu memperhatikan atau pilih kasih kepada adiknya yang memang lebih membutuhkan banyak perhatian dari pada Vanessya.

Aku kerap melibatkan Vaness panggilanya sehari hari dalam mengurus adiknya jadi menanamkan rasa kasih sayang pada sang kakak untuk  menyayangi dan mencintai adiknya yang masih berumur 1 tahun 3 bulan .Aku minta tolong memakaikan celana atau pamper s atau menyiapkan baju ketika valen panggilan valencia sehari hari akan dimandikan.

Malah yang membuatku kagum Vaness sudah pandai membuat kan susu adiknya sesuai takaran dengan benar.Sungguh aku salut dan bangga pada kedua putri kecilku ini.Merekalah matahari bagiku yang menyemangati hari-hariku menjalani hidup dari waktu ke waktu,dari hari ke hari.Senyum mereka yang membuatku lebih bergairah dalam bekerja dan menjalani semua kesah.Meski kadang letih mendera sepulang bekerja namun cukup terobati ketika mereka tersenyum dan memelukku dengan erat.Istirahat sejenak menulis cerpen ini karena aku harus membuatkan susu untuk valen dan vaness.

Aku siap melanjutkan cerpen ini setelah tadi sempat berhenti menulis karena harus tunaikan kewajiban rutinitas membuatkan susu untuk kedua peri cantikku.Hem tadi melanjutkan cerita mengenai kebahagiaanku tiada habisnya.Saat-saat terindah adalah saat menemani mereka menjelang tidur.Aku selalu bersenandung kecil atau bernyanyi kecil untuk menghantarkan mereka tidur.

''Valen bobok oh valen bobok kalo tidak bobo di gigit nyamuk,lalu kuganti vaness bobok oh vaness bobok kalo tidak bobok digigit nyamuk''itu lagu lyriknya sengaja ku ubah agar mereka senang mendengarkan senandungku haha adalagi kadang aku besholawat pelan pelan .

''Salallah alla muhammad Salallah Alaihi wassalam'Salallah Alaihi Muhammad Sallah alaihi Wasalim atau Innashalati Wanusuki Wamayaya Wama Mati Lillahi Rabbil alamin La haula wala huawata Illa billah''

Kalo sudah dengar senandungku yang tidak begitu syahdu pasti mereka lelap.Tapi ada kebiasaan vaness kalo belu minum susu sambil pegangin ujung telinganya dia tidak bisa tidur,lain halnya valen sebelum tidur dia selalu bernyanyi juga tapi aku gak tahu lagu apa itu,hahaha lucu dan menggemaskan pokoknya.

Setelahnya mereka lelap mulailah aksiku mencuri waktu untuk sekedar menulis puisi atau sajak yang hmm isinya tergantung mood suasana hatiku.Kala itu aku sedang dilanda'kegundahan yang luar biasa membuatku tidak bisa tidur dan tidak selera makan.Kalian tahu kecamuk apa yang menyerang pikiranku? Aku resah memikirkan aku ini hanya penulis kacangan yang hobby menulis puisi atau sajak yang kadang ngalor ngidul isinya emosi sesaat saja.Aku hanya mampu menulis dan menulis padahal cita-citaku ingin membuat buku kumpulan puisi tidak akan kesampaian karena aku tahu batas kemampuanku.Aku sadar sesadar mungkin bahwa diriku hanya sanggup menulis saja.Jauh rasanya punya angan untuk bisa menerbitkan karya ku yang jauh dari kesempurnaan.Kenapa kukatakan demikian?Berangkat dari statusku hanya ibu rumah tangga dan karyawan biasa yang tidak mengantongi Ijazah sarjana sastra atau yang lainnya.Aku adalah seorang ibu dan juga istri yang punya tugas bekerja dan mengurus keluarga.Aku kerap mencuri waktu untuk menulis.Terkadang jam kantor yang senggang jam istirahat aku gunakan untuk menulis atau tengah malam begini daat mereka semua anak anak dan suamiku sudah terlelap dan bermimpi indah barilah aku memulai menulis.Ya paling tidak aku tidak menyita waktuku yang seharusnya untuk suami dan anak-anak.Aku dalam kegamangan luar biasa dan sedih bahwa mampuku hanya beli susu dan kebutuhan keluarga untuk 1bulan serta biaya operasional 1 bulan.Lain itu aku benar benar tidak mampu.Makanya aku sering menulis Puisi sajak sajakku tersimpan di dalam kaleng susu bekas anakku/ berserak diantara debu yang tertumpuk di sudut waktu.Ya itulah jujurku bahwa sajak sajak ku yang berharga adalah kaleng susu anak anakku.Untuk masa depan mereka asupan gizi harus tercukupi agar besar nanti jadi anak anak yang cerdas juga sholeha ya itupun tergantung pendidikan dan tingkat itelegensi sang anak.


Malam semakin larut dan berganti pagi,kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 02.59 pagi.Wah hari sudah pagi dan mataku sudah terasa lelah dan sedikit terasa sepet.Aku bermaksud menyudahi menulis,lalu ku rebahkan tubuhku yang letih diatas pembaringan.Aku terlelap dalam beberapa saat namun kembali terbangun karena tangis Valen memecah hening,saatnya harus minum susu.Dengan menahan kantuk aku tetap membuat susu untuk valen.Kemudian tak lama terdengar suara panggilan adzan subhuh menggema kesegala penjuru.Saatnya bangun untuk sholat subhuh kemudian kurebahkan kembali tubuhku karena mataku masih terasa ngantuk.Udara pagi menyelinap masuk ke kaca jendela kamarku.Dan mimpipun telah usai dijemput remang jingga cahya mentari yang mulai menghangatkan sudut ruang tamu.Aku bergegas mandi dan menyiapkan Valen untuk sekolah.Meski saat berangkat nanti dia diantar oleh pengasuh.Justru Valen sudah bangun dari pukul 5 pagi tadi.Seperti biasa bangun pagi dia selalu BAB,tak lupa senyumnya kala membuka mata kunikmatibegitu indah.Valen selalu tersenyum ketika bangun pagi,malah terkadang celoteh paginya yang membangunkan tidurku.''mamamamma tatatata'' celoteh paginya dan mulai merangkak kesana kemari.Membangunkan kakaknya dan bermain.Setelah selesai mengurus valen dan Vanes yang akan siap siap kesekolah,aku memasak pagi.Kemudian mandi dan bergegas berangkat kerja.Kuciumi kedua peri cantikku.Dan rupanya Valen mencium tanganku dan memcium keningku dan hal ini telah lebih dulu di lakukan Vanes.Oh senangnya sambik kukatakan pada mereka berdua : ''Vaness, mama berangkat ya baik baik disekolah ya nak perhatikanbu Guru yg sdg menjelaskan pelajaran.Valen ,mama berangkat,jangan nakal ya sayang,mimik susu dan maem yang banyak ya..biar cepat besar'' selorohku pada anak-anak.Kemudian aku bergegas menyiapkan motor dan tak lpa membawa lap top yang rusak untuk ku servis nitip pada teman.Berharap Lap Top cepat selesai diperbaiki supaya aku bisa mengetik tengah malam dan tidak tersiksa jemariku seperti saat sekarang.Jariku terasa memar dan kaku.Ohh tapi berusaha kulupakan rasa sakit dan lelahku ku coba mengejar waktu yang hanya sisa 8 hari lagi batas pengumpulan naskah cerpen.

Siang ini kutulis cerpen ini saat aku berada di kantor diwaktu senggang ku menjelang istirahat jam kerja.Di tengahnya teman-teman kantor bercanda ria dan sedang membahas anjing Pomeranian.Karena Ahim berniat akan membeli seekor anjing yang dilihat dari iklan situs toko Bagus.
Sedangakan yana dan dewi sedang asyik main game di hp mereka.Aku tetap saja fokus dan berfikir mengembangakan cerpen ini sampai dimana ending yang kuharapkan.Sebenarnyajam ini sudah waktunya untuk makan siang tapi Yana,Dewi dan Ahi tidak beranjak untuk pergi makan siang.Justru mereka bertiga makin seru bermain game Angry Bird.Jadi akupun enggan utuk beranjak dari mejaku untuk pergi makan siang,toh belum begitu lapar.

Semoga hari ini tidak sesibuk kemarin nbanyak kerjaan karena banyak keluar barang jadi pulang kantor agak telat.Biasanya aku pulang pukul 16.30 akan tetapi kemarin aku pulang pukul 18.30 tapi pulang nya masih harus mampir warnet sebentar.Pulang nanti aku juga berniat untuk mampir ke warnet sebentar.
Terkadang melintas dibenakku wajah anak anakku.Ada rasa ingin segera pulang bertemu mereka.''Valen dan Vaness sayang mama pergi pagi pulang sore demi kalian sayang,demi masa depan kalian karena mama ingin kalian sekolah tinggi''Gumamku dalam hati .Dan semoga mereka semakin mengerti.Terkadang aku tidak tega saat aku akan berangkat kerja valen menagis seolah dia tidak mau ditinggal.Aku merasa sedih juga tapi aku pelan pelan membujuk nya agar tangisnya terhenti.Lalu aku suruh pengasuhnya untuk membawa nya bermain agar tidak melihatku pergi.
Apa yang kulakukan adalah demi kaleng susu anak anakku.Dan kepenatanku tentang hari hari yang kujalani kutuangkan dalam puisi dan sajak-sajakku.Memang tak sempurna masih banyak kesalahan disana sini tapi aku terus belajar dan belaja dari para senior di facebook.Aku sering membaca postingan puisi-puisi para senior yang di tag di berandaku.Wah senang rasanya di tag beberapa notes puisi yang sangat bagus bagus dan kaya makna,hmm masih jauh rasanya puisiku dari sempurna.Aku hanya berusaha menulis dan menulis meski tulisanku akhirnya teronggok di sudut waktu.Hanya kunikmati sendiri dan ku bongkar pasang sendiri.Ada beberapa kawan senior memberi saran untu mengirikan puisi -puisiku ke media media cetak.Namun aku tidak pd untuk itu.Tapi pernah ku coba kirim ke harian lokal dan alhasil puisiku pernah di muat di harian lokal di kota semarang dan tangerang.Aku sihh masih ingin mencoba untuk mengirim ke beberapa media lain.Tetapi harus bongkar pasang puisi dulu supaya lebih maksimal dan rajin berkonsultasi atau sharring ke para senior yang bersedia berbagi ilmu menulisnya.Entahlah sajak sajak kaleng susu itu terus menumpuk dan kusimpan di gudang belakang.Biarkan saja sampai anak anakku kelak tahu dan bangga bahwa mamanya punya tulisan tulisan meski belum terpublikasi atau belum jadi buku.Siapa tahu kak mereka yang meneruskan cita citaku untuk membuat buku kumpulan puisi.Dan semoga diantara valen atau vaness ada yang punya talenta untuk menulis.
Sajak sajak ku hening tak bergeming nanar di ujung pertigaan malam membuncah bersama embun pagi yang mulai merintik.
sajak sajaku usang berselimut debu dan berserak di beranda jiwaku.
Hanya aku yang menikmati indahnya dalam sunyi berbincang denganNya di pertigaan MalamNya.Melarut asaku di segelas waktu untuk tetap melangkah melaui hari demi buah hatiku tercinta.Sajak pagi pulang petang untuk kaleng susu buah hatiku.Hidup adalah perjuangan bagiku jangan pernah menyerah sebelum perang.

Meski tubuhku telah didera letih yang menghujat,namun asa di jiwaku tak surutan.Ada embun pagi yang sejukkan jiwaku membasuh pekatnya segala rasa yang berkecamuk dalam jiwa.Ada sinar mentari pagi yang menghangatkan jiwaku menjemput mimpiku setiap pagi.Ada senja yang menjinggakan cakrawala diantara lembayung,dan ada malam yang membawakan aku purnama yang tersenyum dan bertabur gemintang yang berkerlip.Dan senandung sunyiku tak kan pernah kuhentikan sampai mata ini kan terpejam karena nyawa terpisah dari ragaku.Biarkanlah sunyi tetap pekat dalam hatiku,dan senandung sunyi tetap menjadi namaku.Sajak kaleng susu anak anakku akan tetap kutuliskan,meski kesanggupan dayaku hanya mampu menulis dan menulis.Dengan Sajak itu aku akan tetap semangat bekerja dan berusaha menjadi ibu yang baik bagi anak anakku dan istri yang baik bagi suamiku.Sajak itu tetap kan kusimpan dalam jiwaku meski hanya akan terbengkalai di sudut ruang yang berdebu.Biarlah tumpukan sajak sajak itu memenuhi kaleng kaleng kosong bekas susu anak anakku.Jemari ini tetap akan menari untuk merangkai aksara,meracik abjad -abjad kehidupanku.Tak kan berhenti apapun yang terjadi aku tetap kan berjuang.Sajak-sajak Kaleng Susu adalah keringatku untuk membeli senyum yang indah di bibir wajah yang bening kedua peri kecilku yang ayu dan lucu.
Pesan dan kesan jangan pernah menyerah pada keadaan kelak akan indah pada waktunya




Cerita Rakyat Antara Mitos dan Nyata


ASAL USUL DAN  MITOS TELAGA URUNG


Cerita ini saya dapat dari berbagai sumber yang saya sendiri tidak bisa mengambil kesimpulan bahwa cerita ini benar kisah nyata atau hanya cerita legenda yang diyakini dari turun temurun.Saya bermaksud menceritakan kembali  untuk tambahan wawasan.Seperti di daerah lain yang juga pasti ada cerita legenda yang menceritakan asal muasal sesuatu daerah atau suatu kejadian di jaman dahulu.
Semoga cerita ini  dapat menambah  wawasan kekayaan nusantara dari berbagai daerah meskipun banyak nara sumber atau situs website lain yang terlebih dahulu menceritakan kisah ini. Entah mitos atau bukan masyarakat kota Magetan dan sekitarnya telah lama bahkan telah turun temurun mempercayai hal ini.
Setiap pasangan yang belum menikah atau sedang menjalin hubungan (kekasih) yang melewati Telaga Urung ini selalu saja gagal ditengah jalan artinya mereka tidak lanjut ke jenjang pernikahan.Tetapi  untuk  kedua orang yang saling membenci justru bisa  bersatu jika mereka dipertemukan di telaga Urung.Dahulu ketika saya masih duduk di bangku SMK  kelas satu,saya pernah  jalan-jalan ke telaga Sarangan dengan  teman dekat saya waktu itu dengan mengendarai sepeda motor dan melewati Telaga Urung. Dan waktu itu tak berapa lama kemudian kami putus hubungan.Tetapi sebelum berangkat kami berdua tidak menyakini apa-apa  ketika melintasi Telaga Urung tersebut.

Kami biasa saja tanpa berpikir takut gagal  atau putus pacaran.
Setelahnya kejadian itu saya murni menyimpulkan bahwa kami putus bukan karena melewati Telaga Urung tersebut,melainkan karena kami  memang tidak ada kecocokan satu sama lain.Bagi saya pribadi berpacaran atau menjalin suatu hubungan itu berguna untuk saling mengenal karakter masing-masing,menjajaki satu sama lain tentang kepribadian masing-masing.Bila mungkin ada kecocokan bisa saja hubungan tersebut berlanjut ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan.Tapi memang waktu itu kami masih terlalu muda karena mash sekolah SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) yang memang belum pantas untuk menjalin hubungan selain pertemanan.Ya karena memang kami masih harus memikirkan sekolah masing-masing.
Saya rasa semua anak-anak jaman sekarang pun sembunyi-sembunyi untuk berpacaran padahal  memang belum waktunya karena masih sekolah harus konsentrasi tentang hal sekolah.Inilah yang menjadi PR bagi semua orang tua yang harus menanamkan sikap  kepada anak-anaknya selama masih bersekolah hendaknya tidak boleh ada hubungan selain pertemanan saja.Itu akan lebih baik untuk berprestasi di bidang sekolah.

Kembali lagi pada cerita mitos tentang TELAGA URUNG yang sampai saat ini masih diyakini  sebagian masyarakat kota Magetan dan sekitarnya.
Menurut cerita yang saya peroleh dari berbagai sumber, pada zaman dulu kala di lereng gunung Lawu hiduplah seorang mahluk yang berbeda dengan manusia sekarang.Dia memiliki ukuran tubuh jauh lebih besar dari manusia dan orang-orang zaman dulu menyebutnya "raksasa".Sedang di desa Sayutan yaitu desa yang berada diantara lereng gunung Lawu dan Mbelgo ini hiduplah seorang perempuan cantik yang parasnya ayu rupawan.
Karena kecantikan dan kemolekan yang dimilikinya membuat sang raksasa jatuh hati padanya.Sang raksasapun meminang sang gadis untuk dijadikan pendampingnya,Namun pinangan tersebut ditolak oleh sang gadis. Sang raksasapun tidak terima dengan penolakan tersebut,akhirnya dia mengancam akan membunuh kedua orang tuanya dan akan menghancurkan seluruh desa Sayutan.
Karena si gadis sangat cinta dan sayang pada orang tua dan kampungnya, terpaksa sang gadispun menerima pinangan tersebut  dengan mengajukan dua persyaratan yang harus dipenuhi oleh sang raksasa.Yaitu sang gadis meminta pada sang raksasa untuk dibuatkannya sebuah telaga dengan airnya dan lengkap dengan perahu diatas air telaga tersebut di lereng gunung Mblego dalam waktu semalam saja.
Jika ditelaah cerita ini ada kemiripan dengan cerita rakyat Jawa Barat asal muasal Gungung  Tangkuban Perahu.Sang raksasapun menyanggupi dua persyaratan tersebut dengan memerintahkan para pengikutnya para jin dan pasukannya untuk membuat telaga dan sebuah perahu..Sedang sang raksasa sendiri membuat tempat penampungan air di kawasan Ngerong yang sekarang lebih dikenal oleh masyarakat luas dengan nama Telaga Urung.
Malam telah hampir menyapa pagi,telaga dan perahu yang diminta sang gadis hampir selesai di buat.. Melihat pekerjaan sang raksasa hampir selesai,sang gadis dan  para warga Sayutan menjadi gelisah dan panik.Mereka berdoa meminta petunjuk pada sang penguasa alam jagad raya ini untuk menggagalkan rakssa menyelesaian telaga dan perahu tersebut agar raksasa gagal menikahi sang gadis.Mereka berpikir mencari cara untuk menggagalkan sang raksasa.

Setelah lama berpikir akhirnya mereka mendapatkan ide yaitu dengan cara membakar merang atau daun padi kering diatas bukit Mblego agar bila dilihat dari lereng Mblego nampak seperti matahari yang kuning keemasan segera terbit.Mengetahui hari telah pagi para pengikut sang raksasa pergi karena takut dengan sinar matahari.
Sedang sang raksasa tidak terima atas kekalahannya tersebut,dia mengamuk dan menghancurkan desa Sayutan. Melihat kemarahan sang raksasa akhirnya muncul seekor gajah raksasa yang melawan dan berhasil mengalahkan sang raksasa.Karena kalah sang raksasapun menenggelamkan diri kedalam penampungan air buatannya sendiri. Tetapi sebelumnya dia telah memberikan sebuah kutukan untuk sang gadis kalau dia akan menjadi perawan tua seumur hidupnya dan kutukan tersebut menjadi kenyataan.

Sang raksasapun juga akan memisahkan para pasangan kekasih yang melintasi tempat keabadiannya atau telaga Urung tersebut,namun sebaliknya dia akan mempersatukan orang yang saling membenci.
Sementara itu sang gajah saksasa demi berjaga-jaga kalau sang raksasa datang membalas dendam,diapun menetap dilreng gunung  Mblego.Dan lambat laun tubuhnyapun menyatu dengan gunung Mblego hingga sekarang. Pembaca boleh mengabadikan keajaiban ini dengan mempotret gunung Mblego dari arah utara,maka akan tampak seperti seekor gajah yang sedang tidur.
Tetapi bisa juga  untuk melihatnya dari desa "Taman Sari" Parang atau dari bukit "Sari Guna" akan tampak lebih jelas.Sedangkan telaga yang dibuat oleh para pengikut sang raksasa oleh para warga "Trosono" diberi nama Telaga Urung pula yang maksudnya "urung dadi" (belum jadi). Entah karena pengaruh kutukan sang raksasa atau memang kondisi tanahnya,telaga tersebut tidak berair hingga sekarang meskipun hujan sangat deras.

Nah bagi pembaca yang penasaran dan ingin membuktikan kebenaran dari cerita ini,bisa berkunjung ke kota Magetan dan menikmati sejuknya  kota dingin "MITRA". Jika pembaca yang senang berpetualang dengan hal-hal mistis dapat membuktikan aura gaib dan mistiknya telaga Urung Ngerong,yang hingga sekarang masih diyakini oleh warga Magetan dan sekitarnya. Dan jangan lupa naik ke Telaga Sarangan dan grojogan Sewu lereng Lawu.
Kisah ini merupakan warisan leluhur yang merupakan kekayaan nusantara yang harus kita jaga  kelestariannya.Dan terlebih penting kita menjaga kelestarian alam ini agar tetap terjaga keseimbangannya.

Hindari merusak alam,menebangi pohon-pohon secara besar-besaran tanpa reboisasi.Ini akan mengancam kelestarian alam dapat mengakibatkan tanah longsor .
Pada hakikatnya semua makhluk hidup di atas bumi ini berhak hidup.Maka sudah menjadi tugas kita manusia untuk menjaga kelestariandemi kelangsungan hidup yang akan datang.

ASAL USUL   TELAGA  SARANGAN 

Pada zaman dahulu kala hiduplah sepasang suami istri yang bernama Kyai Pasir dan Nyai Pasir di lereng Gunung Lawu.Mereka berdua tinggal di sebuah pondok kecil yang sangat sederhana. Pondok itu dibuat dari kayu hutan dan beratapkan dedaunan. Dengan pondok yang sangat sederhana ini keduanya sudah merasa sangat aman serta tidak takut akan bahaya yang menimpanya, seperti gangguan binatang buas dan sebagainya.

Lebih-lebih mereka telah lama hidup di hutan  tersebut sehingga paham terhadap situasi lingkungan sekitar dan pasti dapat mengatasi segala gangguan yang mungkin akan menimpa dirinya.Dengan suasana yang damai dan tentram mereka hidup berkecukupan.Keindahan alam dilereng gunung Lawu cukup memberikan kecukupan pada mereka dan seluruh penduduk di sekitarnya sebagai petani ladang.
Pada suatu hari pergilah Kyai Pasir ke hutan dengan maksud bercocok tanam sesuatu di ladangnya, sebagai mata pencaharian untuk hidup sehari-hari. Oleh karena ladang yang akan ditanami banyak di tumbuhi pohon-pohon besar,Kyai Pasir terlebih dahulu menebang beberapa pohon besar itu satu demi satu.
Tiba-tiba Kyai Pasir terkejut karena menemukan sebutir telur  terletak di bawah salah satu pohon yang hendak ditebangnya. Diperhatikan telur tersebut sejenak sambil bertanya di dalam hatinya, telur apa gerangan yang ditemukan itu. Padahal di sekitarnya tidak tampak binatang unggas seekorpun yang biasa bertelur.Tanpa berpikir panjang lagi, Kyai Pasir segera pulang membawa telur itu lalu diberikan kepada isterinya.Nyai Pasir.
Kyai Pasir menceritakan kepada Nyai Pasir awal pertamanya menemukan telur itu, sampai dia membawanya pulang. Akhirnya sepasang suami isteri itu sepakat, telur temuan tersebut untuk direbus. Setelah masak, sebagian atau setengahnya telur  rebus itu diberikan  Nyai Pasir  kepada suaminya, lalu telur itupun segera dimakan oleh Kyai Pasir dengan sangat lahapnya. Setelah makan, kemudian Kyai Pasir berangkat lagi ke ladang untuk bermaksud meneruskan pekerjaan menebang pohon dan bercocok tanam.
Dalam perjalanan kembali ke ladang, Kyai Pasir masih merasakan nikmat telur yang baru saja dimakannya. 

Namun setelah tiba di ladang, badannya terasa panas, kaku serta sakit sekali.Mata berkunang-kunang, keringat dingin keluar membasahi sekujur tubuhnya. Derita ini datangnya secara tiba-tiba, sehingga Kyai Pasir tidak mampu menahan sakit itu dan akhirnya merebah ke tanah.
Kyai Pasir dalam  kebingungan sebab sekujur badannya kaku serta sakit bukan kepalang, dalam keadaan yang sangat kritis ini Kyai Pasir berguling-guling di tanah kesana kemari dengan dahsyatnya, Kejadian gaib menimpa Kyai Pasir, tiba-tiba badannya berubah wujud menjadi ular naga yang besar, bersungut, berjampang sangat menakutkan. Ular Naga itu berguling kesana kemari tanpa henti-hentinya.

Konon Nyai Pasir yang tinggal di rumah dan juga makan setengah dari telur yang direbus tadi, dengan tiba-tiba mengalami nasib yang sama seperti yang dialami suaminya Kyai Pasir. Sekujur tubuhnya menjadi sakit, kaku dan panas bukan main. Nyai Pasir menjadi kebingungan, lari kesana kemari, tak karuan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Karena derita yang disandang ini akhirnya Nyai Pasir lari ke ladang bermaksud menemui suaminya untuk minta pertolongan. Tetapi apa yang dijumpai, bukannya Kyai Pasir, melainkan seekor ular naga yang besar sekali juga menakutkan. Melihat ular naga yang besar itu Nyai Pasir terkejut dan takut bukan kepalang. Tetapi karena sakit yang disandangnya semakin parah,
Nyai Pasir tidak mampu lagi bertahan dan merebahlah ke tanah. Nyai Pasir mangalami nasib gaib yang sama seperti yang dialami suaminya. Begitu ia rebah ke tanah, badannya berubah wujud menjadi seekor ular naga yang besar, bersungut, berjampang, giginya panjang dan runcing sangat mengerikan.
Kedua naga itu akhirnya berguling-guling kesana kemari, bergeliat-geliat di tanah ladang itu, menyebabkan tanah tempat kedua naga berguling-guling itu menjadi berserakan dan bercekung-cekung seperti dikeduk-keduk. Cekungan itu makin lama makin luas dan dalam, sementara kedua naga besar itu juga semakin dahsyat pula berguling-guling, namun tiba-tiba dari dalam cekungan tanah yang dalam serta luas itu menyembur air yang besar memancar kemana-mana.
Dalam waktu sekejap saja, cekungan itu sudah penuh dengan air dan ladang Kyai Pasir berubah wujud mejadi kolam besar yang disebut Telaga. 

Telaga inilah yang  oleh masyarakat setempat terdahulu dinamakan Telaga Pasir, karena telaga ini terwujud disebabkan oleh ulah Kyai Pasir dan Nyai Pasir. Telaga pasir atau Telaga sarangan  terletak di kabupaten Magetan,Jawa Timur.
Bagi pembaca yang menyukai wisata pengunungan maupun air, jika melewati kota Madiun maupun kota Ngawi.. rasanya kurang pas kalau tidak menyempatkan diri untuk singgah ke Telaga Sarangan.Telaga Sarangan atau juga dikenal sebagai telaga pasir ini adalah sebuah telaga alami yang terletak di kaki Gunung Lawu, di Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Berjarak sekitar 16 kilometer arah barat kota Magetan. Telaga ini luasnya sekitar 30 hektar dengan berkedalaman 28 meter ,suhu udara di tempat rekreasi ini bekisar antara 18 hingga 25 derajat Celsius, yang mampu menarik ratusanribu pengunjung setiap tahunnya.

Telaga Sarangan merupakan obyek wisata yang terkenal andalan kota Magetan. Di sekeliling telaga terdapat dua hotel berbintang, beberapa hotel kelas melati, dan beberapa pondok wisata bahkan saat ini jumlahnya sudah semakin bertambah. Di samping itu puluhan kios cendera mata yang  menawarkan berbagai makanan, minuman dan  kerajinan tradisional. pengunjung dapat pula menikmati indahnya Sarangan dengan berkuda mengitari telaga, atau mengendarai kapal cepat/speedboat. Fasilitas obyek wisata lainnya pun tersedia, misalnya air terjun Grojogan Sewu, rumah makan, tempat bermain, pasar wisata, tempat parkir, sarana telepon umum, tempat ibadah, dan taman.